Monday, January 12, 2009

Vicky Christina Barcelona (2008) : Ketika cinta begitu kompleks

Mungkin film ini menggambarkan cinta itu sendiri. Penuh liku dan sisi. Dari manis, pahit, passion, jelousy, kesetiaan dan juga putus asa.

Adalah Vicky dan Christina yang menikmati musim panas di Barcelona. Vicky (Rebecca Hall) sedang riset untuk master dan Christina (Scarlett Johansson) yang habis putus dengan pacarnya.

Dalam sebuah kesempatan yang mengantarkan mereka dengan seorang pelukis Juan Antonio (Mr. C asked me about my opinion, and yes he is sooooo sexy) -yang menawarkan untuk mengunjungi galeri dan rumahnya.

Dalam whirlwind yang membuat ketiga orang ini terlibat dalam penelusuran tentang relationship. Makin seru kemudian ketika calon suami Vicky datang dari New York untuk melaksanakan pernikahan. Disusul mantan istri Juan Antonio yang temperamental (dimainkan sangat cantik oleh Penelope Cruz- gosh she is the star).

Yang bikin mengganggu sebenarnya adalah si narator. Photography juga biasa hanya saja didukung setting yang romantis dan cakep. Tapi pengenalan karakter sungguh intens dan mendalam. Sangat kuat.

Seperti biasa Woody Allen membuat film-nya trade mark yang tidak dipunyai sutradara lain. Sangat spesifik dan fokus. Tetapi melihat dari banyak aspek, hingga tidak berkesan sederhana lagi. Mr. C sendiri ngga menyadari kalau ini karya terakhir Woody hingga saya sebutkan.

Ketika film berakhir membuat kami jadi saling bertukar komentar. Tentang begitu materialistiknya orang Amerika dan degradasi 'cinta' itu sendiri. Hingga mempertanyakan apakah cinta dan komitmen itu dua hal yang sama.

Well, terserah aja yah.

Warning :
some hot scene but not such 'dirty'

Kinky Boots (2005) : Apapun dilakukan untuk sebuah sepatu

Ngga tau kok akhirnya nonton lagi film ini. Lucu, konyol tapi menyentuh juga. Bagaimanapun sebagai cucu pembuat sepatu saya ngerasa wajib nonton ini.

Cerita nyata tentang sebuah pabrik sepatu di Northampton yang harus merubah ideologi untuk bisa bertahan di pasaran. Charlie Price mewarisi bisnis sepatu dari sang ayah. Hasil produknya adalah sepatu kulit pria yang berkesan klasik dan aristokrat.

Karena didera hutang, kompeni harus memecat pegawai dan kemudian menutup pabrik. Hingga sang desainer sepatu Laurel mengusulkan merubah desain. Ide kemudian didapatnya dari sang waria Lola yang pernah ditolong (?) Charlie di jalan.

Film ini pararel dengan Calendar Girls (2003), semacam follow up. Walau ngga sesukses Calender tapi Kinky Boots punya kekuatan. Yakni menceritakan kekuatan untuk bertahan hidup. bermain sebagai Lola, Chiwetel Ejiofor adalah pusat perhatian disini. Betul-betul karakter yang mengisi sepenuhnya dan jadi nafas.

Kinky Boots sangat entertaining, bisa dilihat siapa aja dan memeberikan nilai untuk saling toleransi biarpun berbeda.

Warning :
Untuk anak2 harus dijelaskan tentang waria dan kehidupannya.

Sunday, January 4, 2009

Darjeeling Limited (2007) : Kalau Saudara Tak Saling Percaya

Dibanding film Marley and Me (2008) yang kemungkinan 'boring', saya memilih nonton Owen WIlson di Darjeeling Limited dengan nyewa DVD. Seingat saya udah pernah nonton, tapi kok kayaknya keselip.

Film garapan Wes Anderson ini digolongkan komedi. Ngga tau alasan katagori ini, tapi menertawakan tokoh2 disini seperti insulting. Ada nada getir, dark humor dan juga absurd. Terlebih kisah ceritanya yang seperti dongeng seribu malam.

Adalah tiga bersaudara Whitman : Francis, Peter dan Jack yang bertahun-tahun ngga pernah ngobrol sepeninggal ayah mereka. Sebagai anak tertua Francis mengorganisir untuk melakukan perjalanan 'religius' dengan kereta di India, melewati kuil dan pemujaan. Katanya, sebagai pencerahan dan untuk menyatukan kembali ikatan persaudaraan yang hilang.

Jadilah petualang ketiga karakter ini melewati berbagai tempat di Rodhpur, Rajasthan sebagai bentuk pencarian identitas. Ada kompleksitas yang melibatkan masa lalu dan hubungan dengan orangtua. Si ayah yang terlalu memanja, si ibu yang meninggalkan mereka untuk menjadi misionaris hingga tentang istri, pacar dan relasi (assistant precisely, how bizzare you think if he was bringing macbook and printer fax machine into the train in the middle of India?).

Film ini cerdas sekali, banyak petunjuk yang ditinggalkan untuk pemirsa. Tidak seperti Hollywood bockbuster yang cenderung menjelaskan secara eksplisit, Darjeeling memilih meletakkan kesimpulan pada masing2 interpretasi. Ada karakter yang misterius seperti Bill Murray yang mengejar kereta bareng dengan Peter, kemudian Natalie Portman yang berada di ranjang (ehm dia tampil nude di film 12 menit Hotel Chevalier sebagai prologue Daejeeling), yang tentu menjadi buah bibir spekulasi penikmat film.

Di Daejeeling ini saya surprised dengan Owen Wilson. Kayaknya kemampuan akting dia lebih dari cukup untuk sekelas biasa2 aja ( maen dengan cewek nextdoor Jennifer Anniston itu menunjukkan ia turun klas malahan). Potensinya besar sekali, apalagi disejajarkan dengan Adrien Brody (The Pianist) atau si pemberontak Jason Schwatzman.

Kualitas cinema photography sungguh cantik, dengan kamera bergerak tak terduga. Banyak panning tapi tidak terlalu mengganggu. Secara skrip tertata rapi dan multi dimensi, ngga bisa dinikmati lurus-lurus aja. Ada kemungkinan percabangan cerita yang membuat Darjeeling begitu kompleks dan kaya. So begitu selesai, akan ada harapan pemirsa untuk mengetahui kelanjutannya.

Film ini bukan komedi yang konyol dan physical, tapi mengingatkan seperti Lost in Translation (2003 Sofia Coppola). Sungguh absurd tapi memberikan dimensi yang baru, beda dan mencerahkan.

Trailer film bisa dijumpai disini

Warning :
Some harsh scenes (cremation, sexual encounter but not nude except at Hotel Chevalier).

Recommended :
To people who want to know what the meaning of travel and what you expect from your family.



Friday, January 2, 2009

Gran Torino (2008) : Tak Seindah American's Dreams



Ini adalah film kontemporer Amerika yang paling jujur, provocative dengan membawa nilai-nilai yang terlihat berat : rasial, agama, disfungsi keluarga, gangster, hingga mulai runtuhnya industri mobil.

Tadinya saya pengen nonton setelah diresensi NY Times. Kesannya adalah sebuah media pembelajaran tentang apa yang terjadi dalam konteks kekinian Amerika. Bukan seperti Dirty Harry atau Bill Munny di Unforgiven (1992). Diantara film ‘biasa’ ternyata Grand Torino tampil dengan elegan dan mengena.

Adalah Walt Kowalski veteran perang Korea yang memilih menghabiskan waktu tuanya di teras rumah, ditemani anjing setia Daisy sembari minum bir murahan. Merasa tidak dekat dengan dua anaknya, Walt ini seperti gambaran Dirty Harry yang tua dan rapuh. Dabaikan system dan seperti terjebak dalam waktu.

Film ini tidak bercerita tentang America’s dream atau indahnya kehidupan di US. Tapi sebuah proses perubahan dari kacamata Walt. Karakternya yang keras dan kaku tapi penolong beradu dengan keasingannya dengan keluarga sendiri. (si cucu yang tergiur mobil ‘vintage’ grand torino atau anak mantu yang mengambili perhiasan istrinya).

Cerita berakhir dengan ending yang tak diduga. Emosi banyak disini tapi surprisingly sangat menghibur. Dark humor dan cynical tampil cerdas sekali. Film yang bakal mengaduk emosi dan perenungan.

Warning :
Bahasa yang kasar dengan Fwords, ngga bagus buat anak2 tapi okeh untuk remaja.


Thursday, November 6, 2008

The Constant Gardener (2005) : kesetiaan cinta



Bukan karena Obama menang pemilu hingga lantas nonton film ini. Udah ngebet lama, cuma sempat dinikmati setelah Ganges (nyusul deh review-nya). Benang merah penghubung Obama dan film ini adalah Kenya -negeri asal ayah Obama di Africa sana. Tempat yang menjadi inti cerita, sumber konflik dan petualangan seorang Justin Quayle.

Film The Constant Gardener ini bertutur cinta. Sebenarnya sedikit alergi untuk genre macam ini. Tapi karena Mr. C bilang "recommended" ya udah saya simak. Well, klo dia bilang bagus berarti emang ngga cengeng, bukan tipe termehek-mehek gitu. (Dia sempat memberi hint, endingnya entar di sebuah telaga dilatari sunset. Pokoknya romantis...hwaaaa anyes dah).

Film dibuka dengan scene yang memilukan. Kematian seorang aktivis muda nan cantik Tessa (Rachel Weisz - inget Mummy?) yang ditemukan diperkosa kemudian dibunuh dengan keji. Adalah Justin Quayle (Ralph Fiennes) sang suami yang melacak siapa yang bertanggung jawab. Melewati tiga benua Africa-Eropa dan Canada. Melibatkan korupsi, persekongkolan dari tingkat lokal hingga global.

Alur cerita jadi flashback. Bagaimana si naive dan impulsive Tessa jatuh cinta pada Justin yang reserved sebagai diplomat rendah di British High Commissioner di Kenya. Secara kebetulan Tessa menemukan bahwa perusahaan farmasi di Kenya memberikan obat dan serum HIV dan TB ternyata terlibat dalam proses eksperimen yang lebih besar. Skandal yang kemudian mengakibatkan kematiannya.

Justin ternyata juga harus berdamai dengan masa lalu Tessa yang tidak diketahuinya sekaligus mencari tahu kedalaman cintanya sendiri. Sebuah perjalanan yang menyakitkan, penuh liku dan proses psikologis yang dalam.

Diangkat dari novel karya penulis kawakan John le Carré rasanya membuat jaminan skrip yang okeh. Si Tessa dimainkan cantik oleh Rachel hingga membawa piala Oscar untuknya. Yang pasti penghargaan film terbaik di BAFTA (2006) mengukuhkan film ini sebagai non-hollywood blockbuster dengan kualitas okeh.

Saya mungkin terlalu berharap pada si Ralph Fiennes. Terlalu mengingatkan saya pada English Patient, membuat karakter Justin kurang greget. Cuman dia kok masih tetep cakep gitu ya..

Setting di Kenya dan Sudan cukup menggetarkan. Bukan saja melihat dari dekat kemiskinan dan konflik tapi juga kenyataan keras tentang hidup. Indahnya lansekap seperti dihadapkan pada gubuk reyot para pengungsi. Sang sutradara dari Brazil, Fernando Meirelles cukup mengerti kenyataan pahit ini membuat gambar begitu indah dan menyentuh. Pergulatan batin dan keingintahuan Justin mencari cinta yang hilang tergambar runtut dan menyayat.

So, tidak ada airmata ketika film ini selesai. Tapi ada penyadaran baru, saya juga menemukan arti kesetiaan cinta yang dicari Justin. Seperti dibilang, film berakhir di sebuah telaga nan cantik Magadi, dengan cahaya kemilauan matahari dan kelopak sayap burung skimmer yang membelah angkasa. Ah..

Warning : few nudity scene, no violances been represent here eventhough the casualties can be devastating.



Thursday, October 30, 2008

Born Into Brothels (2004) : bukan takdir yang merubah, tapi harapan




"There is nothing called hope in my future" -Avijit


Kisah yang begitu inspiring tentang anak-anak yang terlahir di tempat kumuh red district Sonagochi, Calcutta India, berjuang di keseharian ditemani seorang photografer wanita Zana Briski.


Tadinya saya males nonton, mungkin temanya yang agak ngeres. Rasanya kok gelap. suram dan menyedihkan. Tapi begitu terduduk, saya terpaku. Ini film bukan sembarangan.

Film dibuka dengan narasi Puja, gadis kecil nan riang, cantik dan cerdas menceritakan tentang kawan-kawannya. Ada Avijit, si anak bongsor yang menolak disebut gembul tapi sangat berbakat artistik. Ada Gour, kurus tinggi dan punya daya imajinasi tinggi. Ada Kochi, gadis pemalu yang lebih suka mengamati adik kecil dan keluarganya.

Puja si gadis mbeling itu juga bercerita tentang Malik, yang selalu mengajaknya bersepeda keliling kompleks. Kedekatannya dengan Malik lebih seperti kakak, yang selalu menjaganya. Shanti, gadis pendiam yang lebih suka menceritakan kehidupan sehari-hari, lepas dari penatnya red districts. Suchitra yang tinggal menunggu waktu untuk menyusul menjadi wanita pekerja seksual dalam usia yang masih begitu muda, 14 tahun. Juga Tapasi yang lebih suka mengambil gambar adiknya ketika makan atau menangis.

Anak-anak ini hidup bersama orangtuanya di daerah hitam Sonagochi, tidak bersekolah karena sistem pendidikan menolak mereka. Adalah Zana Briski, photografer yang mendapat tugas menfoto kehidupan hitam wanita pekerja seks ini untuk projectnya. Untuk mendalami tugas, Zana akhirnya tinggal dan berinteraksi dengan anak-anak ini.

Hingga terpetik untuk memberikan les foto bagi mereka sekali seminggu, melatih mereka menggunakan kamera poket dengan film. Dimulai dari cara menggunakan kamera, meloading film, membuat komposisi, dan yang terpentting adalah mengapresiasi karya mereka sendiri dan kawan2nya.

Bagi anak-anak ini adalah sebuah permainan, tapi bagi Zana adalah bentuk ekplorasi dunia yang susah untuk ditembusnya. Lokalisasi sangat sensitif, terlebih jika itu tentang anak-anak.

Zana kemudian membawa karya anak-anak ini untuk dijual lelang di lembaga photo dunia dan dipamerkan di New York. Salah satu dari mereka, bahkan diundang ke Belanda untuk menjadi juri di World Press Photo mewakili suara anak-anak.

Menonton film dokumenter ini haruslah melepas prejudice, bahwa orangtua mereka yang salah. Iyah tapi lihatlah mereka, bakat yang luar biasa yang diasah oleh sebuah tangan yang pintar. Film-nya sendiri lebih bersifat catatan apa saja yang dilakukan. Bagaimana mereka belajar, kehidupan sehari-hari dan terlebih perspektif mereka terhadap hidup itu sendiri. Lihatlah karya-karya mereka yang mengagumkan, jujur, exploative dan liar dalam bentuk artistik.

Saya amati kamera bergerak mengikuti mata anak-anak, yakni mencoba mengambil dari posisi rendah. Jadi jarang terlihat orang dewasa, kecuali memang dimaksudkan sebagai bagian cerita. Zana bekerja dengan Ross Kauffman mendokumentasikan kisah dari dua sisi, yakni dirinya sendiri dan dari anak-anak. Film ini adalah raja film indie tahun 2004/2005, dengan sederet penghargaan dari piala Oscar (Academy) hingga Sundance. Usaha Zana ini dilanjutkan dengan yayasan Kids With Camera, yang berusaha memberikan tampungan sementara dan pengajaran bagi anak di wilayah Calcutta.

Ada optimisme tapi juga keputusasaan yang dipancarkan Zana ketika pontang-panting mengusahakan anak2 itu diterima sekolah. Seperti yang saya duga, beberapa anak belum bisa menerima perbedaaan hidup. Tapi bukankah kita berusaha yang terbaik.

Takdir terletak di tangan manusia yang berusaha untuk mengubahnya.


Warning : some harsh words and upsetting scene, although most of the scenes in the brothel none of adult contents been view explicitly.








Wednesday, October 29, 2008

Rabbit Proof Fence (2002) : kebaikan untuk siapa



Aneh sekali, saya tidak menangis ketika nonton film ini. Tapi saya berurai air mata ketika melihat cuplikan dokumenter bagaimana mensyuting adegan penculikan yang dramatik.

Rabbit Proof Fence
adalah kisah tiga anak blasteran Aborigin yang diambil dari keluarga dengan paksa untuk ditampung di kamp Moore River dekat kota Perth di tahun 1931an. Kisahnya sendiri diambil dari buku karya Doris Pilkington Garimara yang menuturkan kisah ibuknya, Molly.

Waktu itu anak blasteran dilokalisasikan untuk mendapat pendidikan, kesehatan dan ajaran agama menurut standar kolonial Inggris. Si empunya kuasa, A.O Neville digambarkan tidak ingin ras campuran ini 'bercampur' menjadi identitas baru. Maunya di'putihkan' hingga jejak aborigin menghilang.

Dari sisi kolonial, memang pengambilan anak itu wujud pertanggungjawaban mereka. Kebaikan yang diharapkan membuat masa depan anak2 blasteran itu sederajat. Tapi mencabut anak2 dari akar budaya dan akar ekosistem membuat mereka menjadi Stolen Generation -generasi yang kehilangan identitas, baik ras agama dan budaya. Membuat saya tepekur sejenak, apakah perilaku kita terhadap masyarakat indigenious (suku asli) adalah refleksi Neville? saya tak mau bertanya lebih jauh.

Tiga pemain muda Australia ini tampil mengesankan, terutama Molly (Sampi) dan adiknya Daisy (Sainsbury). Karakter Molly yang mbeling, pemberontak, pintar dan natural leader menggiring pemirsa pada perjalanan panjang hampir 1000 mile (1,600km loh!) melewati alam yang tak bersahabat.

Adegan pengambilan paksa itu sendiri dilakukan paling akhir dari film karena paling emosional dan traumatik. Sutradara Philip Noyce (The Quiet American -Michael Caine, anyone?) menjaga agar anak-anak ini bisa melalui proses syuting dengan baik. Karena sekali ambil, adegan ini kudu sempurna.

Yang menarik, komentar anak-anak itu. Kini mereka tahu, kini mereka bukan lagi generasi yang hilang.

Cuplikan dokumenter di Youtube ini, dan trailer bisa ditonton disini