Thursday, November 23, 2006

Borat : Belajar American Culture dari orang Kazhazk





Borat adalah karakter bikinan Sacha Baren Cohen seorang komedian asal Inggris. Bagi yang belum kenal sebenarnya ia juga membuat karakter serupa Ali G beberapa tahun lalu. Hanya saja kali ini Cohen lebih berhasil menampilkan satire dalam suasana kocak.

Adalah Borat seorang jurnalis asal Kazhakhtan yang diminta melaporkan tentang Amerika dan membuat film. Seperti komedi UK yang kaya akan konsep, Borat tampil dengan cerdas. Tugasnya memang mewawancarai orang2 di Amerika untuk mengetahui gaya hidup dan sisi pandang mereka. Orang2 yang diwawancari ini tidak mengetahui bahwa Borat hanyalah karakter bukan seorang yang nyata. Jadi ketika wawancara seringkali adegan lucu dan terlihat shock culture yang jelas.

Yang membuat saya pengen nonton (saya belum nonton mungkin ngg sempat) karena Cohen tampil dengan jujur dan apanya. Komentar yang racist atau pendapat dari masyarakat yang belum tersentuh 'westernized' Seorang aktivis feminis bahkan meninggalkan forum karena komentar Borat yang sangat sexist. So why it's so funny?

Publik Amerika suka sekali dibuat konyol, sesuatu hal yang tidak bisa terjadi di UK. Masyarakat Inggris lebih menyukai komedi yang elegant, cerdas dengan sinisme yang tersembunyi. Sedang Amerika menyukai lelucon yang langsung, cenderung out of control dan sangat terbuka. Tidak ada "hidden agenda" dalam sebuah pernyataan.

Bandingkan dengan Yes Minister, Black Adder, Only Fools and Horse, Fawlty Towers, Monthy Pyton adalah sederetan british comedy yang sungguh sangat-sangat cerdas. Tapi belakangan ini beberapa british comedian mulai merambah Amerika dengan sedikit kompromi dengan budaya setempat.

Serial The Office misalnya yang di BBC2 lumayan ratingnya secara mengejutkan mendapatkan sambutan luarbiasa publik US. Hanya karena Ricky Gervais menampilkan diri sebagai seorang boss yang kompulsif, control freak dengan gaya satire inggris yang dikemas lebih rileks. Bahkan saking disukainya, the Office (versi UK) diberikan inggris tittle untuk kata-kata yang mungkin tidak bisa dipahami publik amerika. Yah aksen londoners memang beda dengan new yorkers.

Sebaliknya gaya mocking character seperti the Borat juga mulai disukai orang inggris. Masih ingat Little Britain (plesetan dari Great Britain) yang dimainkan dua orang dengang berbagai karakter menarik. Yang terkenal adalah Vicky Pollard oleh Matt Lucas atau Daffyd s Thomas sebagai "the only gay in the village".

Ok back to Borat maka ini adalah salah satu kisah sukses satu lagi yang menunjukkan bahwa kita sebenarnya memang suka dibuat konyol, menertawakan diri sendiri. Ada benturan kultur yang jelas, namun terkadang kita tidak menyadari dan memilih melupakan begitu saja.

Dulu ketika pertama kali tiba di Inggris saya diperingatkan untuk ngg mandi seperti di Indonesia alias dengan air gebyur-gebyur. Atau ketika di US ini saya takjub dengan porsi makan perorang yang mungkin bisa dimakan 3 orang. Dan kemudian dibuang hampir separuhnya.

Sepele, tapi sebuah pelajaran berharga.

Kata Borat, "Please you come to see my film, if it's not succes I will be executed" mungkin mantra yang manjur membuat film Borat no 1 untuk minggu ini di US.