
Aneh sekali, saya tidak menangis ketika nonton film ini. Tapi saya berurai air mata ketika melihat cuplikan dokumenter bagaimana mensyuting adegan penculikan yang dramatik.
Rabbit Proof Fence adalah kisah tiga anak blasteran Aborigin yang diambil dari keluarga dengan paksa untuk ditampung di kamp Moore River dekat kota Perth di tahun 1931an. Kisahnya sendiri diambil dari buku karya Doris Pilkington Garimara yang menuturkan kisah ibuknya, Molly.
Waktu itu anak blasteran dilokalisasikan untuk mendapat pendidikan, kesehatan dan ajaran agama menurut standar kolonial Inggris. Si empunya kuasa, A.O Neville digambarkan tidak ingin ras campuran ini 'bercampur' menjadi identitas baru. Maunya di'putihkan' hingga jejak aborigin menghilang.
Dari sisi kolonial, memang pengambilan anak itu wujud pertanggungjawaban mereka. Kebaikan yang diharapkan membuat masa depan anak2 blasteran itu sederajat. Tapi mencabut anak2 dari akar budaya dan akar ekosistem membuat mereka menjadi Stolen Generation -generasi yang kehilangan identitas, baik ras agama dan budaya. Membuat saya tepekur sejenak, apakah perilaku kita terhadap masyarakat indigenious (suku asli) adalah refleksi Neville? saya tak mau bertanya lebih jauh.
Tiga pemain muda Australia ini tampil mengesankan, terutama Molly (Sampi) dan adiknya Daisy (Sainsbury). Karakter Molly yang mbeling, pemberontak, pintar dan natural leader menggiring pemirsa pada perjalanan panjang hampir 1000 mile (1,600km loh!) melewati alam yang tak bersahabat.
Adegan pengambilan paksa itu sendiri dilakukan paling akhir dari film karena paling emosional dan traumatik. Sutradara Philip Noyce (The Quiet American -Michael Caine, anyone?) menjaga agar anak-anak ini bisa melalui proses syuting dengan baik. Karena sekali ambil, adegan ini kudu sempurna.
Yang menarik, komentar anak-anak itu. Kini mereka tahu, kini mereka bukan lagi generasi yang hilang.
Cuplikan dokumenter di Youtube ini, dan trailer bisa ditonton disini
0 comments:
Post a Comment