Thursday, August 14, 2008

Bottle Shock (2008) : bukan kejutan lagi


...wine is sunlight held together by water. Galileo Galilei

Saya tidak tahu kenapa kebun anggur selalu dikonotasikan dengan romantic dan eksotisme. Film Sideways misalnya walau penuh hal absurd tapi rangkaian cerita cinta masih terjalin disana. Well, sort of.

Maka menonton Bottle Shock seperti menyeret saya pada area yang sama. Hanya saja cinta segitiga antara Bo Barret –yang dimainkan lumayan oleh Chris Pane dengan si cantik tomboy Sam dengan Gustavo Brambila –si imut imigran dari Meksiko yang dimainkan Freddy Rodriguez membuat karakter di film ini terbangun.

Hanya saja begitu cerita tentang Chateau Motelena bergulir, romantisme lantas ditanggalkan. Dalam beberapa hal film ini kehilangan konsentrasi. Di satu sisi ingin menggambarkan anak muda hippies Bo yang ingin menunjukkan pada ayahnya Jim (dimainkan cantik oleh Bill Pullman), disisi lain ingin menilik kisah botol wine kejutan yang dicari oleh Steve Spurrier (Alan Rickman) -ahli wine yang technically not French but British.

Karakter Steve inilah sebenarnya yang mengikat cerita dengan manis. Alan Rickman seperti biasa menjadi seorang sinister, jujur dan juga konvensional seperti seorang Inggris. Misinya sangat mulia : mencari produksi wine dari Napa Valley di California yang mampu mengalahkan wine dari Perancis.

Setting tahun 70an sebenarnya pas banget, serasa lebih funky dengan soundtrack dari era segitu. Tapi seperti dibilang di NY Times review, film ini memang untuk menghibur meski diangkat dari kisah nyata. Dibuat dengan low budget, menjadi pembuka di festival film indie Sundance 2008 cukup meyakinkan bahwa film ini mendapat hati di kalangan penikmat film independen.

Saya menikmatinya. Tidak seperti meminum segelas anggur. Tapi karena memahami bahwa untuk menciptakan anggur yang baik, adalah buah tangan seni. Dimulai dari air, tanah, udara, temperature hingga fermentasi-nya sendiri. Prosesnya itu jauh lebih indah. Apalagi jika dengan hasil yang mengejutkan.

So, film ini layak disimak. Ringan tapi tidak entengan. Dengan sinematorafi yang menawan. Kamera dibuat menerbangi wilayah Napa dengan kebun anggurnya yang luas terbentang diantara sunset dan sunrise. Menggambarkan awal industri wine di wilayah ini juga cukup meyakinkan.

Ahya kisah si Bottle Shock ini ternyata berakhir di Smithsonian National Museum of American History. Menciptakan sejarah meletakkan Napa Valley di peta New World Wine dan menjadikan awal eksplorasi tempat-tempat baru yang menghasilkan wine terbaik.

Anyway saya belum pernah bikin wine dari anggur. Hanya pernah mencoba dari buah blackberries. Hasilnya? Waaaaa…. Masih disimpan di kolong Weymouth selama 4 tahun ini. Sapa tau hasilnya lebih jos dalam 10 tahun lagi. He he he…..


ps : saya bingung mengindonesiakan wine dengan anggur. Karena keduanya berbeda. Wine adalah hasil fermentasi dari buah anggur baik yang merah (ungu) ataupun hijau. Analognya seperti padi dan nasi. Karena belum nemu pengganti yang pas, saya tetap gunakan wine.