Sunday, September 21, 2008

Son of Rambow (2007) : kreativitas anak-anak yang liar



Apa jadinya jika dua orang anak terinspirasi film Rambo First Blood? Yups...jadilah film Son of Rambow ini yang kocak, mengharukan dan memberikan bahan renungan buat orang dewasa. Mengambil setting di sebuah sekolah pada musim panas di Inggris tahun 80an, adalah seorang anak nakal biang keributan bernama Lee Carter yang kehabisan cara agar disetrap gurunya.

Ia sebenarnya hidup berkecukupan, tapi sering ditinggal ortunya. Kesehariannya ia ditemani sang kakak yang ternyata mempunyai pekerjaan membuat kopi film ilegal. Secara kebetulan, Lee berkenalan dengan Will seorang anak dari keluarga penganut agama Kristen Brethen yang taat. Mulailah persahabatan yang unik, dimulai dari Lee yang berusaha menggunakan Will. Yah abis si Will ini lugu dan baek banget sih.

Dengan kamera kakaknya, Lee ingin membuat film bersama Will. Sebuah project maen-maen. Sayangnya karena ajaran agamanya, Will tidak diperkenankan menonton gambar bergerak. Tapi si Will ini sebenarnya mempunyai bakat artistik yang terpendam. Buku Bible-nya dipenuhi dengan imajinasi dan coretan lukisan. Bahkan ia membuat mini kartun agak cerita lebih hidup. Konsep di kepalanya seperti sebuah dongeng yang akhirnya dituangkan dalam pembuatan film. Imajinasi Will yang liar membuatnya sebagai aktor merangkap sutradara yang tak kenal takut berekperimen. Bahkan sama sekali tidak mempunyai 'sense of dangerous' semata-mata untuk memenuhi kreativitasnya. Sedangkan Lee yang tadinya berlagak boss, mulai menghargai talenta Will merubah persahabatan menjadi saling hormat.

Saya suka cara bertutur yang nyantai dan tidak terlalu terbebani. Karena masih anak2 plus aktor2 baru Will Poulter dan Bill Milner tampil alami. Terlebih pemeran Will yang terkadang putus asa ketika imajinasinya terbelenggu. Adegan lucu sebenarnya sedikit dipaksakan. Tapi ya namanya film anak2 emang faktor action itu perlu banget. Reputasi film ini bukan maen2. Selain tampil di Sundance Film Festival (barometer indie), juga di Toronto, London dan beberapa festival lainnya.

Belajar dari film ini adalah bahwa bullying memang circle of evil. Artinya seorang menjadi bully biasanya punya pengalaman terdahulu. Seperti Lee yang anak nakal di sekolah ternyata adalah korban dari kakaknya sendiri. Sedangkan dari Will saya belajar bahwa kreativitas terpendam bisa menjadi ekplosive. Ohya kenapa judulnya ada "w" nya? itu sih masalah copyright aja. Tapi si Stallone sendiri memberi restu untuk film ini. Apalagi muncul Rambo 4 di tahun 2008. Wah kok ngepas ya..


Warning : some reckless actions, film for kids but with parents advisory.
Nonton di DVD

Trailer di Youtube

Tuesday, September 9, 2008

The Bank Job (2008) : kerinduan penjahat yang cerdas



Mungkin film ini adalah Ocean Eleven versi indie.Tanpa Clooney, Pitt dan sekuelnya yang melibatkan perempuan asoi seperti Zeta Jones atau Julia Roberts. The Bank Job sesungguhnya mampu menyejajarkan diri dengan alumni Hollywood, bahkan lebih lurus dalam penggarapan. Mencoba funky, hip seperti era gelapnya London 70an.

Diproduksi sepenuhnya di Inggris, dilatari kisah nyata operasi membobol bank di Baker St London, cerita sebenarnya bukanlah rencana serba matang ala Ocean Eleven tapi malah pasca pembobolan. Bukan uang hasil jarahan tapi material lain yang menyeret dalam pertikaian politik dan korupsi yang melibatkan MI5, polisi, mafia hingga monarki.

Kisah diawali dengan tawaran manis untuk merampok bank penuh dengan deposit perhiasan. Tanpa mereka sadari sebenarnya perampokan itu adalah salah satu scenario yang lebih besar dari permainan untuk menutupi skandal seorang putri monarki inggris (for your curiosity she is not Diana).

Jason Statham sebagai Terry Leather dibilang tampil dengan kharisma. Abis suaranya sekseh sih, dengan aksen Cockney-nya yang kental. Setelah sukses dengan Transpotter (berikut serialnya) Jason menjadi pilihan cantik sebagai bad guys yang disulap menjadi hero. Burrows yang tampil ‘bergairah’ sebagai Martine, cewek penuh latar belakang yang mencurigakan plus aktor2 berbakat lainnya berhasil menghidupkan karakter yang bertaburan.

Walau ngga secepat Ocean, tapi ritme film lebih tertata sebelum mencapai chaos setelah berhasil menjebol ruang kotak deposit. Salut banget dengan penyampaian sutradara yang membuat rute linier kemudian membuat pecah dalam beberapa sub stories dan membiarkan seperti ‘out of control’ layaknya kisah itu sendiri. Pergumulan dan kejutan dibuat alami, bahkan terpola. Tidak patchy, dan selalu kembali ke alur utama. Intens terasa banget, hingga klimaks yang menawan.

Skrip dibuat cerdas dengan joke brits banget. Mungkin perlu subtitle inggris untuk membantu mencerna. Ah shame Danny Ocean…
Warning : some nudity scene, so many F words, not for kids
Nonton di DVD

Trailer di Youtube

Sunday, September 7, 2008

Diarios de motocicleta (Motorcycle Diaries 2004) : Andai saya mencinta Ernesto



Es tan corto el amor y tan largo el olvido.
Love is so short and forgetting is so long. Pablo Naruda.

Andai saya dilahirkan lebih dari limapuluh tahun lalu. Andai saya menemaninya sekolah kedokteran di Córdoba Argentina, andai saya berada di bangku sepedamotornya, andai saya menjelajah Amerika Latin bersama Ernesto. Ah..

Cerita ini diangkat dari perjalanan dua sahabat Ernesto Guevara de la Serna dan Alberto Granado. Film-nya sendiri banyak mengambil dari catatan harian yang juga ditulis Ernesto dan memoir dari Alberto : The Making of Che Guevera.

Journey dua orang ini melalui jalanan dan pegunungan Argentina, Chili, Peru, Colombia hingga menyentuh Venezuela. Mentargetkan 8000km menyusur pantai barat Amerika Latin yang ganas dengan sepedamotor Norton 500cc. Lantas apa yang membuat Ernesto yang ditakdirkan sebagai hedonis, middle class, calon dokter bermasa depan cerah menjadi seorang revolusioner Che Guevera?

Inilah yang dicoba dijabarkan dalam film Motorcycle Diaries, bagaimana backpacking merubah pandangan, kepercayaan bahkan masa depan seseorang. Filmnya sendiri mengalir datar, sepertinya memang sengaja dibuat semi dokumenter. Yang saya kagumi adalah pembangunan karakter yang jelas terlihat dari bagaimana mereka menanggapi perubahan. Ernesto yang romantis, ganteng dan jujur. Seorang yang deep thought tapi sangat berpendirian kukuh. Alberto yang easy going, teasing dan lebih sosial menggambarkan tipikal kalangan menengah yang ingin menikmati hidup. Alberto mungkin seperti 'whiner' alias tukang mengeluh. Sedang Fuser (aka Ernesto) adalah seorang didepan, pengambil keputusan yang konsisten.

Perjalanan mereka menemui kenyataan pahit bahwa America dan Native America (Indian dan Maya) masih dalam jajahan. Ketidak adilan, kemiskinan dan ketidak berdayaan menyadarkan bahwa mereka ini sebenarnya lebih beruntung dari pekerja tambang, imigran, ataupun penderita lepra yang mereka obati di klinik San Pablo, Peru.

Sebagai dokumenter film ini ngepas banget. Photography istimewa, menyuguhkan realitas pahit. Ada potongan2 still motion yang dibuat hitam putih seperti photo. Menggambarkan sisi penting manusia-manusia yang mereka temui, persis Alberto yang menggunakan kamera.

Ada perasaan bahwa orang2 didalamnya nyaris tanpa skrip. Wawancara dengan suku Indian atau Maya atau dengan anak kecil yang mengantarkan mereka di Cuzco. Semua berjalan alami. Bahasa Spanyol membuat makin mudah proses interaksi keduanya dengan penduduk, hal yang membuat film bicara.

Sayang ada yang kosong. Adalah musik ilustrasi yang membuat film ini sunyi. Ada moment-moment yang cantik yang bisa membuat penonton makin terseret dengan iringan yang pas. Tapi Walter Salles nampaknya memilih menggunakan kemasan musik yang jelas memerlukan musik, bukan tid bits disana-sini. Jelas mengembalikan esensi film sebagai setengah dokumenter.

Kenapa baru nonton sekarang? well, alasannya klise. Saya pengen nonton berdua, diskusi dengan kawan hidup saya yang pernah ke Peru. Tentang politik kiri (benarkah komunisme lebih dekat ke socialism), tentang kolonialisme Spanyol dan efek panjang terhadap rakyat Amerika Selatan. Katanya, ia rindu kembali kesana. Bahkan membilang, kemungkinan besar tidak ada perubahan dalam rentang limapuluh tahun ini. Rakyat Amerika masih di tingkat kemiskinan yang sama, dalam level korupsi yang mungkin lebih menggila.

Film ini hanya membuka wacana untuk Naruda, Carlos Fuentes, Gabriel Garcia Marquez, ataupun Che dan Castro. Seperti mereka, ada romantisme yang mengharu biru. Membuat saya makin mencinta Ernesto.


Warning : some scenes about leprocy and ill people
Nonton di DVD

Trailer di Youtube



Thursday, September 4, 2008

Brick Lane (2007) : perempuan dan pergulatan nilai Islam


As on nontonfilmindie blog

Ketika film Brick Lane ini dibuat di London, ancaman dan kutukan bagi kru mewarnai riuhnya kontroversial. Begitu novel dengan judul yang sama karya Monica Ali ini mendapat berbagai penghargaan, saya sudah menduga karena tema yang diangkat cukup sensasional, sensitive dan kemungkinan menimbulkan konflik sosial.

Film ini memang tentang perempuan, pergulatan batin antara etika, kultur, agama dan nilai. Adalah Nazneen, gadis ingusan dari Bangladesh yang disunting pria berumur yang belum pernah ia temui untuk tinggal di UK. Enam belas tahun kemudian, Nazneen mencapai kulminasi dengan anak-anak makin besar dan bentuk cintanya terhadap suami.

Benturan dengan budaya barat agaknya tidak terhindari terutama ketika Nazneen harus mencari tambahan penghasilan demi anak2nya. Film, teve, dan lingkungan mengubah nilai-nilai tradisional yang dulu di pegangnya. Walau secara isi, film ini kompleks banget, tapi lumayan dijabarkan dengan lurus -ini yang mungkin membedakannya dengan novel.

Sarah Gavron si sutradara yang juga seorang wanita mampu menangkap esensi cerita dan memvisualisasikannya dengan cantik. Keindahan pedesaan, dinginnya flat abu-abu di Brick Lane, isolasi sosial, dan kegundahan Nazneen yang diutarakan dalam bahasa tubuh ketimbang teks. Beda sekali dengan novel yang penuh dengan deskripsi, di film ini diubah menjadi media gambar yang puitis.

Tema Islam memang jadi tembok besar bagi sutradara untuk menyentuhnya. Bukankah susah sekali memberi tahu bahwa film/novel adalah sebuah fiksi? tetapi hujatan terhadap film dari kalangan muslim inggris khususnya imigran Pakistan/Bangladesh membuat saya sedih. Toh ini hanya sebuah cerita yang mungkin mewakili hati perempuan2 di Brick Lane walau tidak semua seperti Nazneen yang kemudian menjalin affair. Sebuah perilaku yang tabu untuk disampaikan.

Brick Lane agak lamban, terutama di awal hingga hampir pertengahan. Bagi yang membaca novelnya pasti bisa memahami, tapi buat film goers agaknya sedikit boring.


Warning : some sexual scenes, cukup sehat di tonton anak-anak 17th keatas
Nonton di pesawat (lupa dimana)

Trailer di Youtube



Tuesday, September 2, 2008

Le Scaphandre et le papillon (The Diving Bell and the Butterfly 2007)


Ngga salah jika film The Diving Bell and the Butterfly penuh dengan siraman pujian pengamat seantero dunia dari BAFTA, Academy hingga Cannes. Yaks jadi bintang indie di tahun 2007.

Diangkat dari novel jurnalis dan editor Elle Magazine, Jean-Dominique Bauby ketika ia terkena stroke yang berakhir dengan locked-in syndrome, kondisi yang secara mental masih terjaga tapi secara fisik lumpuh. Bauby menuliskan memoir ini dengan menggunakan kerdipan mata.

Film dibuka dengan upaya Bauby memahami kondisinya. Seperti kita si pemirsa ikutan terperangkap dalam tubuh, menanyakan apa yang terjadi. Orang-orang disekitarnya dari istri dan tiga anak, perempuan simpanan, kawan dekat, terapis, hingga sang ayah diceritakan dengan kesenduan dan realitas. Kemudian mulailah sedikit demi sedikit bergerak keluar, dengan melihat dari ‘luar’ termasuk melihat iamginasi dan impian-impian liar Bauby.

Awalnya film ini akan diproduksi Hollywood dengan artis Johnny Depp. Tapi batal karena berbagai alasan hingga akhirnya disutradarai Julian Schnabel kawan Depp. Demi orisinilitas, Diving Bell tetap dalam bahasa Perancis terutama karena berkaitan dengan alphabetical French.

Kekuatan The Diving Bell adalah cara menyusun cerita yang kompleks antara flash back dan on-off memory, photography yang arty banget khas perancis dan dialog yang minim tapi bermakna. Khusus sinematography lebih banyak menggunakan still motion tanpa dialog karena menvisualisasi pikiran Bauby. Saya menyebutnya agak surealis. Antara nyata dan tidak.

Mengikuti film ini bukannya makin sedih tapi malah mengingatkan bahwa apapun bisa terjadi dalam kedipan mata. Sebuah hidup ternyata penuh makna. Menerima kematian menjadi perjuangan dan harapan baru.


Warning : some nudity scene, surrealist combined with imaginary scenes, not for kids
Nonton di DVD
Trailer di Youtube