
"There is nothing called hope in my future" -Avijit
Kisah yang begitu inspiring tentang anak-anak yang terlahir di tempat kumuh red district Sonagochi, Calcutta India, berjuang di keseharian ditemani seorang photografer wanita Zana Briski.
Tadinya saya males nonton, mungkin temanya yang agak ngeres. Rasanya kok gelap. suram dan menyedihkan. Tapi begitu terduduk, saya terpaku. Ini film bukan sembarangan.
Film dibuka dengan narasi Puja, gadis kecil nan riang, cantik dan cerdas menceritakan tentang kawan-kawannya. Ada Avijit, si anak bongsor yang menolak disebut gembul tapi sangat berbakat artistik. Ada Gour, kurus tinggi dan punya daya imajinasi tinggi. Ada Kochi, gadis pemalu yang lebih suka mengamati adik kecil dan keluarganya.
Puja si gadis mbeling itu juga bercerita tentang Malik, yang selalu mengajaknya bersepeda keliling kompleks. Kedekatannya dengan Malik lebih seperti kakak, yang selalu menjaganya. Shanti, gadis pendiam yang lebih suka menceritakan kehidupan sehari-hari, lepas dari penatnya red districts. Suchitra yang tinggal menunggu waktu untuk menyusul menjadi wanita pekerja seksual dalam usia yang masih begitu muda, 14 tahun. Juga Tapasi yang lebih suka mengambil gambar adiknya ketika makan atau menangis.
Anak-anak ini hidup bersama orangtuanya di daerah hitam Sonagochi, tidak bersekolah karena sistem pendidikan menolak mereka. Adalah Zana Briski, photografer yang mendapat tugas menfoto kehidupan hitam wanita pekerja seks ini untuk projectnya. Untuk mendalami tugas, Zana akhirnya tinggal dan berinteraksi dengan anak-anak ini.
Hingga terpetik untuk memberikan les foto bagi mereka sekali seminggu, melatih mereka menggunakan kamera poket dengan film. Dimulai dari cara menggunakan kamera, meloading film, membuat komposisi, dan yang terpentting adalah mengapresiasi karya mereka sendiri dan kawan2nya.
Bagi anak-anak ini adalah sebuah permainan, tapi bagi Zana adalah bentuk ekplorasi dunia yang susah untuk ditembusnya. Lokalisasi sangat sensitif, terlebih jika itu tentang anak-anak.
Zana kemudian membawa karya anak-anak ini untuk dijual lelang di lembaga photo dunia dan dipamerkan di New York. Salah satu dari mereka, bahkan diundang ke Belanda untuk menjadi juri di World Press Photo mewakili suara anak-anak.
Menonton film dokumenter ini haruslah melepas prejudice, bahwa orangtua mereka yang salah. Iyah tapi lihatlah mereka, bakat yang luar biasa yang diasah oleh sebuah tangan yang pintar. Film-nya sendiri lebih bersifat catatan apa saja yang dilakukan. Bagaimana mereka belajar, kehidupan sehari-hari dan terlebih perspektif mereka terhadap hidup itu sendiri. Lihatlah karya-karya mereka yang mengagumkan, jujur, exploative dan liar dalam bentuk artistik.
Saya amati kamera bergerak mengikuti mata anak-anak, yakni mencoba mengambil dari posisi rendah. Jadi jarang terlihat orang dewasa, kecuali memang dimaksudkan sebagai bagian cerita. Zana bekerja dengan Ross Kauffman mendokumentasikan kisah dari dua sisi, yakni dirinya sendiri dan dari anak-anak. Film ini adalah raja film indie tahun 2004/2005, dengan sederet penghargaan dari piala Oscar (Academy) hingga Sundance. Usaha Zana ini dilanjutkan dengan yayasan Kids With Camera, yang berusaha memberikan tampungan sementara dan pengajaran bagi anak di wilayah Calcutta.
Ada optimisme tapi juga keputusasaan yang dipancarkan Zana ketika pontang-panting mengusahakan anak2 itu diterima sekolah. Seperti yang saya duga, beberapa anak belum bisa menerima perbedaaan hidup. Tapi bukankah kita berusaha yang terbaik.
Takdir terletak di tangan manusia yang berusaha untuk mengubahnya.
Warning : some harsh words and upsetting scene, although most of the scenes in the brothel none of adult contents been view explicitly.
