
Bukan karena Obama menang pemilu hingga lantas nonton film ini. Udah ngebet lama, cuma sempat dinikmati setelah Ganges (nyusul deh review-nya). Benang merah penghubung Obama dan film ini adalah Kenya -negeri asal ayah Obama di Africa sana. Tempat yang menjadi inti cerita, sumber konflik dan petualangan seorang Justin Quayle.
Film The Constant Gardener ini bertutur cinta. Sebenarnya sedikit alergi untuk genre macam ini. Tapi karena Mr. C bilang "recommended" ya udah saya simak. Well, klo dia bilang bagus berarti emang ngga cengeng, bukan tipe termehek-mehek gitu. (Dia sempat memberi hint, endingnya entar di sebuah telaga dilatari sunset. Pokoknya romantis...hwaaaa anyes dah).
Film dibuka dengan scene yang memilukan. Kematian seorang aktivis muda nan cantik Tessa (Rachel Weisz - inget Mummy?) yang ditemukan diperkosa kemudian dibunuh dengan keji. Adalah Justin Quayle (Ralph Fiennes) sang suami yang melacak siapa yang bertanggung jawab. Melewati tiga benua Africa-Eropa dan Canada. Melibatkan korupsi, persekongkolan dari tingkat lokal hingga global.
Alur cerita jadi flashback. Bagaimana si naive dan impulsive Tessa jatuh cinta pada Justin yang reserved sebagai diplomat rendah di British High Commissioner di Kenya. Secara kebetulan Tessa menemukan bahwa perusahaan farmasi di Kenya memberikan obat dan serum HIV dan TB ternyata terlibat dalam proses eksperimen yang lebih besar. Skandal yang kemudian mengakibatkan kematiannya.
Justin ternyata juga harus berdamai dengan masa lalu Tessa yang tidak diketahuinya sekaligus mencari tahu kedalaman cintanya sendiri. Sebuah perjalanan yang menyakitkan, penuh liku dan proses psikologis yang dalam.
Diangkat dari novel karya penulis kawakan John le Carré rasanya membuat jaminan skrip yang okeh. Si Tessa dimainkan cantik oleh Rachel hingga membawa piala Oscar untuknya. Yang pasti penghargaan film terbaik di BAFTA (2006) mengukuhkan film ini sebagai non-hollywood blockbuster dengan kualitas okeh.
Saya mungkin terlalu berharap pada si Ralph Fiennes. Terlalu mengingatkan saya pada English Patient, membuat karakter Justin kurang greget. Cuman dia kok masih tetep cakep gitu ya..
Setting di Kenya dan Sudan cukup menggetarkan. Bukan saja melihat dari dekat kemiskinan dan konflik tapi juga kenyataan keras tentang hidup. Indahnya lansekap seperti dihadapkan pada gubuk reyot para pengungsi. Sang sutradara dari Brazil, Fernando Meirelles cukup mengerti kenyataan pahit ini membuat gambar begitu indah dan menyentuh. Pergulatan batin dan keingintahuan Justin mencari cinta yang hilang tergambar runtut dan menyayat.
So, tidak ada airmata ketika film ini selesai. Tapi ada penyadaran baru, saya juga menemukan arti kesetiaan cinta yang dicari Justin. Seperti dibilang, film berakhir di sebuah telaga nan cantik Magadi, dengan cahaya kemilauan matahari dan kelopak sayap burung skimmer yang membelah angkasa. Ah..
Warning : few nudity scene, no violances been represent here eventhough the casualties can be devastating.