Dibanding film Marley and Me (2008) yang kemungkinan 'boring', saya memilih nonton Owen WIlson di Darjeeling Limited dengan nyewa DVD. Seingat saya udah pernah nonton, tapi kok kayaknya keselip. Film garapan Wes Anderson ini digolongkan komedi. Ngga tau alasan katagori ini, tapi menertawakan tokoh2 disini seperti insulting. Ada nada getir, dark humor dan juga absurd. Terlebih kisah ceritanya yang seperti dongeng seribu malam.
Adalah tiga bersaudara Whitman : Francis, Peter dan Jack yang bertahun-tahun ngga pernah ngobrol sepeninggal ayah mereka. Sebagai anak tertua Francis mengorganisir untuk melakukan perjalanan 'religius' dengan kereta di India, melewati kuil dan pemujaan. Katanya, sebagai pencerahan dan untuk menyatukan kembali ikatan persaudaraan yang hilang.
Jadilah petualang ketiga karakter ini melewati berbagai tempat di Rodhpur, Rajasthan sebagai bentuk pencarian identitas. Ada kompleksitas yang melibatkan masa lalu dan hubungan dengan orangtua. Si ayah yang terlalu memanja, si ibu yang meninggalkan mereka untuk menjadi misionaris hingga tentang istri, pacar dan relasi (assistant precisely, how bizzare you think if he was bringing macbook and printer fax machine into the train in the middle of India?).
Film ini cerdas sekali, banyak petunjuk yang ditinggalkan untuk pemirsa. Tidak seperti Hollywood bockbuster yang cenderung menjelaskan secara eksplisit, Darjeeling memilih meletakkan kesimpulan pada masing2 interpretasi. Ada karakter yang misterius seperti Bill Murray yang mengejar kereta bareng dengan Peter, kemudian Natalie Portman yang berada di ranjang (ehm dia tampil nude di film 12 menit Hotel Chevalier sebagai prologue Daejeeling), yang tentu menjadi buah bibir spekulasi penikmat film.
Di Daejeeling ini saya surprised dengan Owen Wilson. Kayaknya kemampuan akting dia lebih dari cukup untuk sekelas biasa2 aja ( maen dengan cewek nextdoor Jennifer Anniston itu menunjukkan ia turun klas malahan). Potensinya besar sekali, apalagi disejajarkan dengan Adrien Brody (The Pianist) atau si pemberontak Jason Schwatzman.
Kualitas cinema photography sungguh cantik, dengan kamera bergerak tak terduga. Banyak panning tapi tidak terlalu mengganggu. Secara skrip tertata rapi dan multi dimensi, ngga bisa dinikmati lurus-lurus aja. Ada kemungkinan percabangan cerita yang membuat Darjeeling begitu kompleks dan kaya. So begitu selesai, akan ada harapan pemirsa untuk mengetahui kelanjutannya.
Film ini bukan komedi yang konyol dan physical, tapi mengingatkan seperti Lost in Translation (2003 Sofia Coppola). Sungguh absurd tapi memberikan dimensi yang baru, beda dan mencerahkan.
Trailer film bisa dijumpai disini
Warning :
Some harsh scenes (cremation, sexual encounter but not nude except at Hotel Chevalier).
Recommended :
To people who want to know what the meaning of travel and what you expect from your family.
0 comments:
Post a Comment