Friday, January 2, 2009

Gran Torino (2008) : Tak Seindah American's Dreams



Ini adalah film kontemporer Amerika yang paling jujur, provocative dengan membawa nilai-nilai yang terlihat berat : rasial, agama, disfungsi keluarga, gangster, hingga mulai runtuhnya industri mobil.

Tadinya saya pengen nonton setelah diresensi NY Times. Kesannya adalah sebuah media pembelajaran tentang apa yang terjadi dalam konteks kekinian Amerika. Bukan seperti Dirty Harry atau Bill Munny di Unforgiven (1992). Diantara film ‘biasa’ ternyata Grand Torino tampil dengan elegan dan mengena.

Adalah Walt Kowalski veteran perang Korea yang memilih menghabiskan waktu tuanya di teras rumah, ditemani anjing setia Daisy sembari minum bir murahan. Merasa tidak dekat dengan dua anaknya, Walt ini seperti gambaran Dirty Harry yang tua dan rapuh. Dabaikan system dan seperti terjebak dalam waktu.

Film ini tidak bercerita tentang America’s dream atau indahnya kehidupan di US. Tapi sebuah proses perubahan dari kacamata Walt. Karakternya yang keras dan kaku tapi penolong beradu dengan keasingannya dengan keluarga sendiri. (si cucu yang tergiur mobil ‘vintage’ grand torino atau anak mantu yang mengambili perhiasan istrinya).

Cerita berakhir dengan ending yang tak diduga. Emosi banyak disini tapi surprisingly sangat menghibur. Dark humor dan cynical tampil cerdas sekali. Film yang bakal mengaduk emosi dan perenungan.

Warning :
Bahasa yang kasar dengan Fwords, ngga bagus buat anak2 tapi okeh untuk remaja.


1 comments:

GILASINEMA said...

Bagus banget nih film. Baru kali ini aku demen ma Clint Eastwood. Menyedihkan melihat orang tua yang sinis di tengah lingkungan yang terus berubah.
Akhir film yang tragis, sangat menohok dan sekali lagi menempatkan Clint sebagai pahlawan